Siklus Hidup Kutu Beras

siklus hidup kutu beras

Imago Sitophilus spp. berwarna hitam, hitam kecoklatan dan coklat. Serangga betina bertelur sepanjang stadium dewasa. Setiap betina mampu bertelur lebih dari 150 butir. Telur diletakkan satu per satu dalam lubang yang dibuat oleh serangga betina pada biji yang diserangnya. Telur dilindungi oleh lapisan lilin/gelatine hasil sekresi serangga betina. Periode telur berlangsung selama 6 hari pada suhu 25oC. Setelah menetas, larva segera memakan bagian biji yang di sekitarnya dan membentuk lubang-lubang gerekan. Larva terdiri dari empat instar. Periode pupa berlangsung di dalam biji. Serangga dewasa yang baru muncul segera membuat jalan keluar dengan cara menggerek bagian biji tersebut sehingga membentuk lubang besar yang karakteristik. Total periode perkembangan serangga ini antara 35 - 40 hari, tergantung jenis dan mutu biji yang diserangnya (Kalshoven, 1981; Anonim, 2009). 

Beberapa karakteristik dari hama ini adalah sebagai berikut : 
a) Imago ketika masih umur muda berwarna hitam kecoklatan dan coklat kemerahan, setelah tua warnanya berubah menjadi hitam dan coklat. Pada kedua buah sayap bagian depan masing-masing terdapat dua buah bercak berwarna kuning agak kemerahan (S. oryzaea dan S. zeamais). S. linearis dan S. granaries tidak memiliki spot pada elytra; 
b) Panjang tubuh imago antara 3,5 – 5 mm, tergantung spesies dan tempat hidupnya, artinya pada material yang lebih besar (misalnya butiran jagung atau potongan gaplek) ukuran tubuhnya lebih besar yaitu sekitar 4,5 mm, lebih besar daripada larva yang hidup pada butiran beras; 
c) Larvanya tidak berkaki, berwarna putih jernih. Ketika melakukan gerakan tubuhnya selalu membentuk seperti agak bulat, mengkerut, sedangkan kepompongnya tampak seakan-akan telah dewasa (Anonim, 1882; Cotton, 1980;

Aktivitas perkembangbiakan, makan, dan kopulasi umumnya dilakukan pada malam hari. Imago betina meletakkan telurnya pada tiap butiran Manueke, J., dkk.: Biologi Sitophilus oryzae dan Sitophilus zeamais. 22 bebijian yang telah dilubanginya terlebih dahulu. Setiap lubang gerekan diletakkan satu butir telur, selanjutnya lubang gerekan tersebut ditutup dengan tepung sisa-sisa gerekan yang di rekat dengan zat gelatine yang sekresikan oleh imago betina. Stadium telur sekitar tujuh hari. Larva yang keluar dari telur langsung menggerek bebijian (butiran Beras, Jagung dan lain-lain) dan stadium larva berada dalam biji dan melanjutkan serangannya di dalam biji tersebut. Larva tidak berkaki, stadium larva berlangsung 7 - 10 hari. Pupa berada dalam biji sampai menjadi imago. Stadium pupa berlangsung 7 - 12 hari. Imago setelah keluar dari pupa akan tetap berada di dalam lubang/biji sekitar lima hari. Siklus hidup kutu beras hama ini berlangsung sekitar 31 hari (Sartikanti, 2004; Tjoa Tjien Mo, 1953). 

Dikenal beberapa spesies penting dalam genus Sitopihilus yaitu S. oryzae, S. zeamais, S. linearis dan S. granarius. S. oryzae dikenal dengan nama bubuk beras atau rice weevil, karena merupakan hama utama pada beras dan gabah. S. zeamais dikenal dengan nama bubuk jagung atau maize weevil karena merupakan hama utama pada jagung pipilan/biji jagung. S. granaries dikenal dengan nama bubuk gandum atau wheat weevil karena menyerang simpanan gandum. S. linearis dikenal dengan nama bubuk biji asem atau tamarind weevil karena merupakan hama pada biji Asam Jawa. Imago Sitophilus spp. dapat dilihat pada Gambar 1 (Anonim, 2010). 

Dulunya S. oryzae dikenal dengan nama lain yaitu Calandra oryzae L., kemudian Schoenher (1838), mendeskripsikannya kembali dengan nama Sitophilus oryzae. Di Indonesia dikenal dengan nama bubuk beras atau kumbang beras, di Sulawesi Utara disebut logong dan di Minahasa disebut lowong atau kutu beras, sedangkan di luar negeri disebut rice weevil. 

Beberapa karakteristik dari hama ini ialah sebagai berikut : 
a) Imago ketika masih umur muda berwarna coklat agak kemerahan, setelah tua warnanya berubah menjadi hitam. Kedua buah sayap bagian depan masing-masing terdapat dua buah bercak berwarna kuning agak kemerahan; 
b) Panjang tubuh imago antara 3,5 – 5 mm, tergantung dari tempat hidup larvanya, artinya pada material yang lebih besar (misalnya butiran jagung atau potongan gaplek) ukuran tubuhnya lebih besar yaitu sekitar 4,5 mm daripada larva yang hidup pada butiran beras; 
c) Larvanya tidak berkaki, berwarna putih jernih. Ketika melakukan gerakan tubuhnya selalu membentuk seperti agak bulat mengkerut, sedangkan kepompongnya tampak seakan-akan telah dewasa (Anonim, 2010; Manueke, 1993; Syarief dan Halid, 1993) 

Serangga ini mengalami metamorfosa sempurna (holometabola) yaitu dalam perkembangan dari telur sampai dewasa melalui empat stadium yaitu telur, larva, pupa dan imago. Imago merusak butiran bahan dengan bentuk alat mulutnya yang khas yaitu berbentuk seperti moncong (rostrum), dikhususkan untuk melubangi butiran beras, butiran jagung atau bebijian lainnya yang keras. Bebijian yang terserang, terutama beras akan menjadi berlubang-lubang kecil-kecil sehingga mempercepat hancurnya bijian tersebut menjadi seperti tepung. Kerusakan yang berat mengakibatkan adanya gumpalan-gumpalan pada bahan pascapanen akibat adaanya/bercampurnya air liur larva dan kotoran yang dihasilkan oleh serangga (Mallis, 2004; Kartasapoetra, 1991; Surtikianti, 2004; Hilton and Corbet, 1975; Hill, 1990).

Comments

Popular posts from this blog

JUAL PESTISIDA 085288940290

Teri Crispi